Senin, 24 Oktober 2016

REVIEW: HOW FACEBOOK CHANGED THE WORLD; The Story of The Arab Spring



Identitas Film:
Judul      : How Facebook Changed The World
Jenis       : Dokumenter
Produksi : BBC News
Tahun     : 5 September 2011 (episode 1)
                 15 September 2011 (episode 2)

Secara singkat, film ini pada dasarnya berbentuk dokumenter yang berisi rekaman peristiwa Arab Spring dan wawancara dengan beberapa warga negara asli yang mengalami Arab Spring. Dalam film ini memperlihatkan bagaimana people power pada akhirnya benar-benar dapat menumbangkan rezim yang sudah lama berkuasa di negara tersebut. Gerakan people power ini juga muncul sebagai akibat dari peranan media sosial di era modern ini. Warga negara yang melakukan gerakan people power kebanyakan berasal dari negara-negara yang dipimpin oleh tiran dan otoriter. Mereka cenderung memimpin dengan cara yang diktator dan tidak menerima suara masyarakat. Oleh sebab itu, pemberitaan media seringkali dipegang oleh pemerintah untuk membendung pemberitaan buruk mengenai pemimpin. Di Tunisia sendiri, revolusi besar sempat terjadi. Berawal dari aksi dari sekelompok warga Tunisia yang melakukan aksi demonstrasi di pusat-pusat kota Tunisia, namun aparat keamanan yang diturunkan justru melakukan tindakan kekerasan terhadap para demonstran tersebut. Anehnya, media lokal Tunisia sama sekali tidak memberitakan peristiwa berdarah tersebut karena kontrol pemerintah.
Atas dasar hal ini, maka beberapa kaum muda dan intelektual Tunisia merekam kejadian kerusuhan di hari-hari berikutnya secara diam-diam lalu mengunggahnya ke media sosial, salah satunya adalah facebook. Tidak hanya itu, mereka juga merekam kejadian kerusuhan secara live untuk ditayangkan di berbagai media sosial. Dalam waktu singkat, video-video tersebut menjadi viral dan menyebar, tidak hanya di Tunisia sendiri, namun juga ke negara tetangga, hingga internasional. Media sosial juga digunakan untuk mengajak masyarakat untuk sadar bahwa ada sesuatu yang salah di negerinya, sehingga kesejahteraan sulit tercapai. Dan untuk membenarkan sesuatu yang salah tersebut, maka harus menghilangkan “sumbernya”, yaitu dengan cara menggulingkan rezim yang telah lama berkuasa. Selain itu, penggunaan media sosial juga digunkan oleh masyarakat untuk berkoordinasi dan saling bertukar informasi, mengenai wilayah mana saja yang dijaga ketat oleh pasukan kemanan, apabila ingin melakukan aksi demonstrasi. Melalui media sosial juga, aksi people power di Tunisia kemudian menstimulus masyarakat di negara-negara Arab lainnya yang pimpin rezim otoriter yang telah lama berkuasa untuk melakukan revolusi pemerintahan.
Salah satunya adalah Mesir. Di Mesir, seorang pemuda melakukan hacking terhadap bukti korupsi yang dilakukan oleh Presiden Mesir, yaitu Hosni Mubarak. Bukti tersebut kemudian ia upload ke sosial media agar dapat diakses secara publik. Namun, respon dari pemerintah sungguh diluar dugaan, pemuda tersebut kemudian diseret dan dipukuli hingga mati tanpa diadili secara hukum (apabila ia melakukan kejahatan). Hal tersebut kemudian memancing emosi rakyat Mesir dan menstimulus gerakan people power di Mesir untuk menggulingkan rezim saat itu. Tidak hanya di Mesir saja, gerakan people power kemudian menyebar lebih luas dan jauh lagi ke Yaman, Maroko, Suriah, Libya, Bahrain, dan protes yang terjadi di berbagai negara Arab lainnya.
Terlihat bahwa, di era modern ini, media sosial memiliki pengaruh yang besar tidak hanya sebatas dalam persebaran informasi, namun lebih luas lagi, dari tersebarnya informasi tersebut kemudian menstimulus masyarakat lain dalam tekanan yang serupa untuk mengadopsi gerakan yang sama. Tidak ada satupun orang di dunia ini yang tidak memiliki media sosial. Media sosial kemudian menjadi sarana kebebasan berpendapat, menuangkan kekaguman hingga kekecewaan kepada pemimpin. Dampak dari pertukaran arus informasi melalui sosial mediapun sangat besar, bagi negara-negara Arab, hal tersebut bahkan mampu menggulingkan rezim penguasa yang dianggap penuh kecurangan. Saat inipun penggunaan sosial media juga digunakan untuk mempromosikan gerakan-gerakan sosial masyarakat. Tidak hanya yang bersifat politik, namun juga non-politik, misalnya gerakan lingkungan, gerakan perlindungan satwa langka, dan sebagainya. Melalui sosial media, kita dapat memberi informasi mengenai permasalahan apa yang saat ini sedang dihadapi umat manusia dan mengajak pengguna sosial media lainnya untuk mengatasi permasalahan tersebut. Sosial media juga dianggap cukup efektif dalam mengintegrasikan masyarakat yang memiliki tujuan atau minat yang sama, namun jauh secara geografis. Melalui sosial media, mereka kemudian dapat mengobrol, bertukar informasi, hingga menemukan penyelasaian atas masalah bersama yang dihadapi. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar