Identitas Film:
Judul : How Facebook Changed The World
Jenis : Dokumenter
Produksi : BBC News
Tahun : 5 September 2011 (episode 1)
15 September 2011 (episode 2)
Secara
singkat, film ini pada dasarnya berbentuk dokumenter yang berisi rekaman
peristiwa Arab Spring dan wawancara
dengan beberapa warga negara asli yang mengalami Arab Spring. Dalam film ini memperlihatkan bagaimana people power pada akhirnya benar-benar dapat
menumbangkan rezim yang sudah lama berkuasa di negara tersebut. Gerakan people power ini juga muncul sebagai
akibat dari peranan media sosial di era modern ini. Warga negara yang melakukan
gerakan people power kebanyakan
berasal dari negara-negara yang dipimpin oleh tiran dan otoriter. Mereka
cenderung memimpin dengan cara yang diktator dan tidak menerima suara
masyarakat. Oleh sebab itu, pemberitaan media seringkali dipegang oleh
pemerintah untuk membendung pemberitaan buruk mengenai pemimpin. Di Tunisia
sendiri, revolusi besar sempat terjadi. Berawal dari aksi dari sekelompok warga
Tunisia yang melakukan aksi demonstrasi di pusat-pusat kota Tunisia, namun
aparat keamanan yang diturunkan justru melakukan tindakan kekerasan terhadap
para demonstran tersebut. Anehnya, media lokal Tunisia sama sekali tidak
memberitakan peristiwa berdarah tersebut karena kontrol pemerintah.
Atas
dasar hal ini, maka beberapa kaum muda dan intelektual Tunisia merekam kejadian
kerusuhan di hari-hari berikutnya secara diam-diam lalu mengunggahnya ke media
sosial, salah satunya adalah facebook. Tidak hanya itu, mereka juga merekam
kejadian kerusuhan secara live untuk
ditayangkan di berbagai media sosial. Dalam waktu singkat, video-video tersebut
menjadi viral dan menyebar, tidak hanya di Tunisia sendiri, namun juga ke
negara tetangga, hingga internasional. Media sosial juga digunakan untuk
mengajak masyarakat untuk sadar bahwa ada sesuatu yang salah di negerinya,
sehingga kesejahteraan sulit tercapai. Dan untuk membenarkan sesuatu yang salah
tersebut, maka harus menghilangkan “sumbernya”, yaitu dengan cara menggulingkan
rezim yang telah lama berkuasa. Selain itu, penggunaan media sosial juga digunkan
oleh masyarakat untuk berkoordinasi dan saling bertukar informasi, mengenai
wilayah mana saja yang dijaga ketat oleh pasukan kemanan, apabila ingin
melakukan aksi demonstrasi. Melalui media sosial juga, aksi people power di Tunisia kemudian
menstimulus masyarakat di negara-negara Arab lainnya yang pimpin rezim otoriter
yang telah lama berkuasa untuk melakukan revolusi pemerintahan.
Salah
satunya adalah Mesir. Di Mesir, seorang pemuda melakukan hacking terhadap bukti korupsi yang dilakukan oleh Presiden Mesir,
yaitu Hosni Mubarak. Bukti tersebut kemudian ia upload ke sosial media agar
dapat diakses secara publik. Namun, respon dari pemerintah sungguh diluar
dugaan, pemuda tersebut kemudian diseret dan dipukuli hingga mati tanpa diadili
secara hukum (apabila ia melakukan kejahatan). Hal tersebut kemudian memancing
emosi rakyat Mesir dan menstimulus gerakan people
power di Mesir untuk menggulingkan rezim saat itu. Tidak hanya di Mesir
saja, gerakan people power kemudian
menyebar lebih luas dan jauh lagi ke Yaman, Maroko, Suriah, Libya, Bahrain, dan
protes yang terjadi di berbagai negara Arab lainnya.
Terlihat
bahwa, di era modern ini, media sosial memiliki pengaruh yang besar tidak hanya
sebatas dalam persebaran informasi, namun lebih luas lagi, dari tersebarnya
informasi tersebut kemudian menstimulus masyarakat lain dalam tekanan yang serupa
untuk mengadopsi gerakan yang sama. Tidak ada satupun orang di dunia ini yang
tidak memiliki media sosial. Media sosial kemudian menjadi sarana kebebasan
berpendapat, menuangkan kekaguman hingga kekecewaan kepada pemimpin. Dampak
dari pertukaran arus informasi melalui sosial mediapun sangat besar, bagi
negara-negara Arab, hal tersebut bahkan mampu menggulingkan rezim penguasa yang
dianggap penuh kecurangan. Saat inipun penggunaan sosial media juga digunakan
untuk mempromosikan gerakan-gerakan sosial masyarakat. Tidak hanya yang
bersifat politik, namun juga non-politik, misalnya gerakan lingkungan, gerakan
perlindungan satwa langka, dan sebagainya. Melalui sosial media, kita dapat memberi
informasi mengenai permasalahan apa yang saat ini sedang dihadapi umat manusia
dan mengajak pengguna sosial media lainnya untuk mengatasi permasalahan
tersebut. Sosial media juga dianggap cukup efektif dalam mengintegrasikan
masyarakat yang memiliki tujuan atau minat yang sama, namun jauh secara
geografis. Melalui sosial media, mereka kemudian dapat mengobrol, bertukar
informasi, hingga menemukan penyelasaian atas masalah bersama yang dihadapi.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar