KURANGI
KONSUMSI PLASTIK BERLEBIH!!!
Kemasan
plastik merupakan benda yang sering kita temui dalam kehidupan sehari-hari.
Tidak hanya sebagai tempat makanan, kemasan plastik juga ada yang digunakan
sebagai tempat minum, tempat kresek, hingga sendok dan garpu plastik. Banyak alasan
kemasan plastik ini sering digunakan (terutama bagi pengusaha kuliner). Salah satunya,
alasan kepraktisannya. Setelah digunakan, maka bisa langsung dibuang. Istilahnya,
kemasan ini biasanya digunakan untuk sekali pakai. Tapi, tahukah kamu,
penggunaan kemasan ini memiliki dampak yang serius tidak hanya bagi pegguna,
namun juga bagi lingkungan? Bagi pengguna, dampak yang muncul adalah masalah
kesehatan. Penggunaan kemasan plastik secara terus menerus dapat memicu
pertumbuhan sel kanker, menghalangi perkembangan hormon estrogen, penyebab
infertilitas, serta dapat melemahkan sistem kekebalan tubuh[1].
Sedangkan dampak buruk penggunaan kemasan plastik bagi lingkungan adalah
kebanyakan dari kita menggunakan kemasan hanya untuk sekali atau dua kali
kegunaan saja. Setelah itu, plastik kemudian dibuang. Sayangnya, plastik
merupakan materi yang sulit terurai. Perlu beribu-ribu tahun lamanya untuk
mengurai satu kemasan plastik secara total. Sedangkan, dalam sehari apabila
sedang dalam kegiatan produktif, kita bisa menghabiskan lebih dari satu kemasan
plastik. Bayangkan, semisal satu orang dalam sehari menghabiskan lima kemasan
plastik, maka perlu berapa ribu atau berapa puluh tahun hingga kemasan plastik
yang ia konsumsi benar-benar terurai?
Selain
itu, terkadang sampah plastik setelah digunakan seringkali tidak dibuang pada
tempatnya. Di tempat umum, tempat wisata, jalan raya, dan sebagainya serigkali
kita temukan sampah plastik berserakan. Khususnya di tempat wisata alam, sampah
plastik bekas pengguna benar-benar mengganggu pemandangan alam. Misalnya,
seringkali kita temukan sampah plastik yang tertumpuk di pantai. Beberapa
sampah plastik tersebut bahkan terseret hingga ke laut. Di laut, sampah plastik
kemudian terombang-ambing hingga akhirnya jatuh ke dasar laut maupun samudra.
Sama halnya dengan dampak yang diterima manusia untuk masalah kesehatan, sampah
plastik juga memiliki dampak buruk bagi biota laut. Sampah plastik yang ada di
laut tentu saja memiliki kandungan zat kimia. Tidak dapat dipungkiri juga bahwa
bisa saja biota laut ini kemudian mengonsumsi sampah plastik yang ditemui
karena mengira bahwa benda tersebut adalah makanannya. Ketika dikonsumsi, maka
akan ada efek racun yang akan dirasakan biota laut tersebut. Belum lagi untuk
masalah keindahan, sampah plastik yang ada dilaut bisa saja tersangkut diantara
terumbu karang, dan berefek pada matinya terumbu karang karena terkontaminasi
racun kimiawi dalam waktu yang cukup lama[2].
Di
negara-negara maju, seperti kawasan Eropa Barat, konsumsi plastik pada tahun
2015 sebanyak 136kg, di Jepang 108kg, sedangkan di kawasan Asia (tanpa Jepang)
cenderung lebih rendah, yaitu sebanyak 36kg.[3] Meski
begitu, Indonesia menempati urutan kedua sebagai negara penghasil sampah
plastik ke laut di dunia, yaitu sebanyak 187,2 juta ton. Posisi pertama di
tempati oleh Cina, sebanyak 262,9 juta ton. Lalu kemudian disusul oleh
Fillipina, Vietnam, dan Sri Lanka[4].
Saat inipun negara-negara mulai menaruh perhatian pada masalah plastik ini.
Beberapa negara, yaitu Irlandia, Denmark, Skotlandia, Jerman, Afrika Selatan, Amerika
Serikat, Prancis, Bangladesh, Australia, Meksiko, Italia, dan Indonesia
berupaya mengurangi penggunaan kantong plastik dengan cara memberi biaya
tambahan atas penggunaan kantong plastik tersebut[5].
Sedangkan Prancis menjadi negara pertama di dunia yang melakukan pelarangan
penggunaan plastik untuk peralatan makan[6].
Oleh
sebab itu, atas nama kesehatan dan juga lingkungan, mari bersama kurangi
konsumsi penggunaan kemasan plastik. Kita mungkin tidak bisa total untuk tidak
menggunakan kemasan plastik. Namun, bagaimanapun juga, kita dapat mengurangi
hal tersebut sedikit demi sedikit demi mewujudkan lingkungan Indonesia yang
lebih indah dan bersih. Kita bisa memulainya dengan menggunakan tempat makanan
dan botol air minum isi ulang agar dapat mengurangi konsumsi plastik,
menggunakan tas belanja ramah lingkungan sebagai pengganti kantong plastik,
atau apabila kita terpaksa harus mengonsumsi kemasan plastik, buang sampah
plastik pada tempatnya, yaitu masukkan dalam tempat sampah non-organik agar
nantinya dapat didaur ulang dan dapat digunakan kembali. Mari bersama ciptakan
Indonesia bebas plastik!!!
[1] NY
Siregar, Universitas Sumatera Utara, Gambaran
Perilaku Ibu Rumah Tangga Pengguna Wadah Plastik Penyimpan Makanan dan Minuman
di Kelurahan Sidorame Timur Kecamatan Medan, diakses dari https://www.google.co.id/search?q=ny+siregar+pdf&oq=ny+siregar+pdf&aqs=chrome..69i57j69i60l3j69i59j69i65.2821j0j9&sourceid=chrome&ie=UTF-8#,
pada 24/10/16, pukul 16:02 WIB.
[2] Jenna R.
Jambeck, Jambeck Research Group, Plastic
Waste Inputs From Land in to The Ocean, diakses dari http://jambeck.engr.uga.edu/landplasticinput,
pada 24/10/16, pukul 16:06 WIB.
[3] Statista,
Global Consumption of Plastic Materials
by Region 1980 to 2015 (in kilograms per capita), diakses dari https://www.statista.com/statistics/270312/consumption-of-plastic-materials-per-capita-since-1980/,
pada 24/10/16, pukul 16:06 WIB.
[4] Tri
Wahyuni, CNN Indonesia, Indonesia
Penyumbang Sampah Plastik Terbesar Ke-Dua di Dunia, diakses dari http://www.cnnindonesia.com/gaya-hidup/20160222182308-277-112685/indonesia-penyumbang-sampah-plastik-terbesar-ke-dua-dunia/,
pada 24/10/16, pukul 16:08 WIB.
[5] Siwi Tri
Puji B, Republika Online, Negara-negara
dengan Zero Kantong Plastik, diakses dari http://www.republika.co.id/berita/koran/teraju/16/01/20/o18x47-negaranegara-dengan-zero-kantong-plastik,
pada 24/10/16, pukul 16:09 WIB.
[6] Tempo.Co,
Prancis Negara Pertama di Dunia Larang
Penggunaan Plastik, diakses dari https://m.tempo.co/read/news/2016/09/20/117805824/prancis-negara-pertama-di-dunia-larang-penggunaan-plastik,
pada 24/10/16, pukul 16:10 WIB.



