Senin, 24 Oktober 2016

GERAKAN BEBAS PLASTIK






KURANGI KONSUMSI PLASTIK BERLEBIH!!!

Kemasan plastik merupakan benda yang sering kita temui dalam kehidupan sehari-hari. Tidak hanya sebagai tempat makanan, kemasan plastik juga ada yang digunakan sebagai tempat minum, tempat kresek, hingga sendok dan garpu plastik. Banyak alasan kemasan plastik ini sering digunakan (terutama bagi pengusaha kuliner). Salah satunya, alasan kepraktisannya. Setelah digunakan, maka bisa langsung dibuang. Istilahnya, kemasan ini biasanya digunakan untuk sekali pakai. Tapi, tahukah kamu, penggunaan kemasan ini memiliki dampak yang serius tidak hanya bagi pegguna, namun juga bagi lingkungan? Bagi pengguna, dampak yang muncul adalah masalah kesehatan. Penggunaan kemasan plastik secara terus menerus dapat memicu pertumbuhan sel kanker, menghalangi perkembangan hormon estrogen, penyebab infertilitas, serta dapat melemahkan sistem kekebalan tubuh[1]. Sedangkan dampak buruk penggunaan kemasan plastik bagi lingkungan adalah kebanyakan dari kita menggunakan kemasan hanya untuk sekali atau dua kali kegunaan saja. Setelah itu, plastik kemudian dibuang. Sayangnya, plastik merupakan materi yang sulit terurai. Perlu beribu-ribu tahun lamanya untuk mengurai satu kemasan plastik secara total. Sedangkan, dalam sehari apabila sedang dalam kegiatan produktif, kita bisa menghabiskan lebih dari satu kemasan plastik. Bayangkan, semisal satu orang dalam sehari menghabiskan lima kemasan plastik, maka perlu berapa ribu atau berapa puluh tahun hingga kemasan plastik yang ia konsumsi benar-benar terurai?
Selain itu, terkadang sampah plastik setelah digunakan seringkali tidak dibuang pada tempatnya. Di tempat umum, tempat wisata, jalan raya, dan sebagainya serigkali kita temukan sampah plastik berserakan. Khususnya di tempat wisata alam, sampah plastik bekas pengguna benar-benar mengganggu pemandangan alam. Misalnya, seringkali kita temukan sampah plastik yang tertumpuk di pantai. Beberapa sampah plastik tersebut bahkan terseret hingga ke laut. Di laut, sampah plastik kemudian terombang-ambing hingga akhirnya jatuh ke dasar laut maupun samudra. Sama halnya dengan dampak yang diterima manusia untuk masalah kesehatan, sampah plastik juga memiliki dampak buruk bagi biota laut. Sampah plastik yang ada di laut tentu saja memiliki kandungan zat kimia. Tidak dapat dipungkiri juga bahwa bisa saja biota laut ini kemudian mengonsumsi sampah plastik yang ditemui karena mengira bahwa benda tersebut adalah makanannya. Ketika dikonsumsi, maka akan ada efek racun yang akan dirasakan biota laut tersebut. Belum lagi untuk masalah keindahan, sampah plastik yang ada dilaut bisa saja tersangkut diantara terumbu karang, dan berefek pada matinya terumbu karang karena terkontaminasi racun kimiawi dalam waktu yang cukup lama[2].
Di negara-negara maju, seperti kawasan Eropa Barat, konsumsi plastik pada tahun 2015 sebanyak 136kg, di Jepang 108kg, sedangkan di kawasan Asia (tanpa Jepang) cenderung lebih rendah, yaitu sebanyak 36kg.[3] Meski begitu, Indonesia menempati urutan kedua sebagai negara penghasil sampah plastik ke laut di dunia, yaitu sebanyak 187,2 juta ton. Posisi pertama di tempati oleh Cina, sebanyak 262,9 juta ton. Lalu kemudian disusul oleh Fillipina, Vietnam, dan Sri Lanka[4]. Saat inipun negara-negara mulai menaruh perhatian pada masalah plastik ini. Beberapa negara, yaitu Irlandia, Denmark, Skotlandia, Jerman, Afrika Selatan, Amerika Serikat, Prancis, Bangladesh, Australia, Meksiko, Italia, dan Indonesia berupaya mengurangi penggunaan kantong plastik dengan cara memberi biaya tambahan atas penggunaan kantong plastik tersebut[5]. Sedangkan Prancis menjadi negara pertama di dunia yang melakukan pelarangan penggunaan plastik untuk peralatan makan[6].
Oleh sebab itu, atas nama kesehatan dan juga lingkungan, mari bersama kurangi konsumsi penggunaan kemasan plastik. Kita mungkin tidak bisa total untuk tidak menggunakan kemasan plastik. Namun, bagaimanapun juga, kita dapat mengurangi hal tersebut sedikit demi sedikit demi mewujudkan lingkungan Indonesia yang lebih indah dan bersih. Kita bisa memulainya dengan menggunakan tempat makanan dan botol air minum isi ulang agar dapat mengurangi konsumsi plastik, menggunakan tas belanja ramah lingkungan sebagai pengganti kantong plastik, atau apabila kita terpaksa harus mengonsumsi kemasan plastik, buang sampah plastik pada tempatnya, yaitu masukkan dalam tempat sampah non-organik agar nantinya dapat didaur ulang dan dapat digunakan kembali. Mari bersama ciptakan Indonesia bebas plastik!!!  




[1] NY Siregar, Universitas Sumatera Utara, Gambaran Perilaku Ibu Rumah Tangga Pengguna Wadah Plastik Penyimpan Makanan dan Minuman di Kelurahan Sidorame Timur Kecamatan Medan, diakses dari https://www.google.co.id/search?q=ny+siregar+pdf&oq=ny+siregar+pdf&aqs=chrome..69i57j69i60l3j69i59j69i65.2821j0j9&sourceid=chrome&ie=UTF-8#, pada 24/10/16, pukul 16:02 WIB.
[2] Jenna R. Jambeck, Jambeck Research Group, Plastic Waste Inputs From Land in to The Ocean, diakses dari http://jambeck.engr.uga.edu/landplasticinput, pada 24/10/16, pukul 16:06 WIB.
[3] Statista, Global Consumption of Plastic Materials by Region 1980 to 2015 (in kilograms per capita), diakses dari https://www.statista.com/statistics/270312/consumption-of-plastic-materials-per-capita-since-1980/, pada 24/10/16, pukul 16:06 WIB.
[4] Tri Wahyuni, CNN Indonesia, Indonesia Penyumbang Sampah Plastik Terbesar Ke-Dua di Dunia, diakses dari http://www.cnnindonesia.com/gaya-hidup/20160222182308-277-112685/indonesia-penyumbang-sampah-plastik-terbesar-ke-dua-dunia/, pada 24/10/16, pukul 16:08 WIB.
[5] Siwi Tri Puji B, Republika Online, Negara-negara dengan Zero Kantong Plastik, diakses dari http://www.republika.co.id/berita/koran/teraju/16/01/20/o18x47-negaranegara-dengan-zero-kantong-plastik, pada 24/10/16, pukul 16:09 WIB.
[6] Tempo.Co, Prancis Negara Pertama di Dunia Larang Penggunaan Plastik, diakses dari https://m.tempo.co/read/news/2016/09/20/117805824/prancis-negara-pertama-di-dunia-larang-penggunaan-plastik, pada 24/10/16, pukul 16:10 WIB.



REVIEW: HOW FACEBOOK CHANGED THE WORLD; The Story of The Arab Spring



Identitas Film:
Judul      : How Facebook Changed The World
Jenis       : Dokumenter
Produksi : BBC News
Tahun     : 5 September 2011 (episode 1)
                 15 September 2011 (episode 2)

Secara singkat, film ini pada dasarnya berbentuk dokumenter yang berisi rekaman peristiwa Arab Spring dan wawancara dengan beberapa warga negara asli yang mengalami Arab Spring. Dalam film ini memperlihatkan bagaimana people power pada akhirnya benar-benar dapat menumbangkan rezim yang sudah lama berkuasa di negara tersebut. Gerakan people power ini juga muncul sebagai akibat dari peranan media sosial di era modern ini. Warga negara yang melakukan gerakan people power kebanyakan berasal dari negara-negara yang dipimpin oleh tiran dan otoriter. Mereka cenderung memimpin dengan cara yang diktator dan tidak menerima suara masyarakat. Oleh sebab itu, pemberitaan media seringkali dipegang oleh pemerintah untuk membendung pemberitaan buruk mengenai pemimpin. Di Tunisia sendiri, revolusi besar sempat terjadi. Berawal dari aksi dari sekelompok warga Tunisia yang melakukan aksi demonstrasi di pusat-pusat kota Tunisia, namun aparat keamanan yang diturunkan justru melakukan tindakan kekerasan terhadap para demonstran tersebut. Anehnya, media lokal Tunisia sama sekali tidak memberitakan peristiwa berdarah tersebut karena kontrol pemerintah.
Atas dasar hal ini, maka beberapa kaum muda dan intelektual Tunisia merekam kejadian kerusuhan di hari-hari berikutnya secara diam-diam lalu mengunggahnya ke media sosial, salah satunya adalah facebook. Tidak hanya itu, mereka juga merekam kejadian kerusuhan secara live untuk ditayangkan di berbagai media sosial. Dalam waktu singkat, video-video tersebut menjadi viral dan menyebar, tidak hanya di Tunisia sendiri, namun juga ke negara tetangga, hingga internasional. Media sosial juga digunakan untuk mengajak masyarakat untuk sadar bahwa ada sesuatu yang salah di negerinya, sehingga kesejahteraan sulit tercapai. Dan untuk membenarkan sesuatu yang salah tersebut, maka harus menghilangkan “sumbernya”, yaitu dengan cara menggulingkan rezim yang telah lama berkuasa. Selain itu, penggunaan media sosial juga digunkan oleh masyarakat untuk berkoordinasi dan saling bertukar informasi, mengenai wilayah mana saja yang dijaga ketat oleh pasukan kemanan, apabila ingin melakukan aksi demonstrasi. Melalui media sosial juga, aksi people power di Tunisia kemudian menstimulus masyarakat di negara-negara Arab lainnya yang pimpin rezim otoriter yang telah lama berkuasa untuk melakukan revolusi pemerintahan.
Salah satunya adalah Mesir. Di Mesir, seorang pemuda melakukan hacking terhadap bukti korupsi yang dilakukan oleh Presiden Mesir, yaitu Hosni Mubarak. Bukti tersebut kemudian ia upload ke sosial media agar dapat diakses secara publik. Namun, respon dari pemerintah sungguh diluar dugaan, pemuda tersebut kemudian diseret dan dipukuli hingga mati tanpa diadili secara hukum (apabila ia melakukan kejahatan). Hal tersebut kemudian memancing emosi rakyat Mesir dan menstimulus gerakan people power di Mesir untuk menggulingkan rezim saat itu. Tidak hanya di Mesir saja, gerakan people power kemudian menyebar lebih luas dan jauh lagi ke Yaman, Maroko, Suriah, Libya, Bahrain, dan protes yang terjadi di berbagai negara Arab lainnya.
Terlihat bahwa, di era modern ini, media sosial memiliki pengaruh yang besar tidak hanya sebatas dalam persebaran informasi, namun lebih luas lagi, dari tersebarnya informasi tersebut kemudian menstimulus masyarakat lain dalam tekanan yang serupa untuk mengadopsi gerakan yang sama. Tidak ada satupun orang di dunia ini yang tidak memiliki media sosial. Media sosial kemudian menjadi sarana kebebasan berpendapat, menuangkan kekaguman hingga kekecewaan kepada pemimpin. Dampak dari pertukaran arus informasi melalui sosial mediapun sangat besar, bagi negara-negara Arab, hal tersebut bahkan mampu menggulingkan rezim penguasa yang dianggap penuh kecurangan. Saat inipun penggunaan sosial media juga digunakan untuk mempromosikan gerakan-gerakan sosial masyarakat. Tidak hanya yang bersifat politik, namun juga non-politik, misalnya gerakan lingkungan, gerakan perlindungan satwa langka, dan sebagainya. Melalui sosial media, kita dapat memberi informasi mengenai permasalahan apa yang saat ini sedang dihadapi umat manusia dan mengajak pengguna sosial media lainnya untuk mengatasi permasalahan tersebut. Sosial media juga dianggap cukup efektif dalam mengintegrasikan masyarakat yang memiliki tujuan atau minat yang sama, namun jauh secara geografis. Melalui sosial media, mereka kemudian dapat mengobrol, bertukar informasi, hingga menemukan penyelasaian atas masalah bersama yang dihadapi.